Bongkar Stigma Nuklir Hingga Manfaat, Rokhmat Ardiyan Bersama BAPETEN Hadirkan Edukasi di Kuningan

Bongkar Stigma Nuklir Hingga Manfaat, Rokhmat Ardiyan Bersama BAPETEN Hadirkan Edukasi di Kuningan.

KUNINGAN - Teknologi nuklir masih kerap dibayangi stigma sebagai sesuatu yang identik dengan senjata dan bahaya. Padahal, pemanfaatannya telah berkembang luas untuk mendukung berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari kesehatan, pertanian, pangan, pendidikan, hingga industri.

Perspektif tersebut menjadi salah satu pokok bahasan dalam kegiatan Bakti Pengawasan Perencanaan Program Pengawasan Pemanfaatan Tenaga Nuklir yang digelar Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) bersama Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Gerindra, H. Rokhmat Ardiyan, M.M., di Obyek Wisata Arunika, Kabupaten Kuningan, Selasa (25/8/2026). Kegiatan ini diikuti ratusan peserta dari berbagai unsur masyarakat, termasuk tokoh lintas organisasi dan organisasi mahasiswa. Peserta kegiatan ini mencapai 150 orang. 

Kegiatan tersebut tidak hanya berisi sosialisasi mengenai manfaat teknologi nuklir, tetapi juga membahas tugas dan fungsi BAPETEN dalam memastikan pemanfaatan tenaga nuklir berlangsung aman. Diskusi turut menghadirkan kalangan akademisi dari Universitas Kuningan sehingga peserta memperoleh perspektif dari sisi pengawasan, teknologi, maupun dunia pendidikan.

Plt. Kepala BAPETEN Ir. Zainal Arifin, yang juga Deputi Bidang Perizinan BAPETEN, menjelaskan penggunaan teknologi nuklir memiliki cakupan jauh lebih luas dibanding persepsi masyarakat selama ini. Salah satu pemanfaatannya terdapat di bidang kesehatan, termasuk penggunaan radiasi untuk pemeriksaan medis dan penanganan penyakit tertentu. BAPETEN memang memiliki mandat melakukan pengawasan melalui regulasi, perizinan, dan inspeksi dengan mengedepankan keselamatan, keamanan, serta perlindungan masyarakat dan lingkungan. 

Menurut Zainal, radiasi memiliki karakteristik yang tidak dapat dilihat, dirasakan, maupun dikenali secara langsung oleh manusia. Karena itu, prinsip keselamatan radiasi menjadi bagian penting dalam setiap pemanfaatan teknologi tersebut. BAPETEN memastikan penggunaan tenaga nuklir memenuhi ketentuan melalui proses perizinan dan inspeksi, sekaligus mendorong masyarakat ikut membangun budaya keselamatan.

Pesan tersebut sekaligus menegaskan perubahan paradigma pengawasan, dari sekadar mengawasi menjadi bagian dari upaya memberikan perlindungan. Masyarakat didorong tidak pasif, melainkan ikut mengenali potensi risiko dan melaporkan dugaan adanya sumber radiasi atau pemanfaatan tenaga nuklir yang tidak sesuai ketentuan. BAPETEN juga membuka saluran komunikasi dan pengaduan publik. 

Dalam kesempatan tersebut, H. Rokhmat Ardiyan menilai edukasi mengenai nuklir penting diperluas di Kuningan, terutama kepada mahasiswa dan lingkungan perguruan tinggi. Menurutnya, masyarakat tidak semestinya alergi terhadap teknologi nuklir karena manfaatnya sangat luas ketika digunakan dengan standar keselamatan yang ketat.

“Nuklir ini sangat banyak manfaatnya. Seperti di bidang kesehatan, pendidikan sebagai riset, pertanian, pangan, teknologi dan lainnya,” ujar H. Rokhmat Ardiyan.

Ia mendorong BAPETEN tidak hanya melakukan sosialisasi kepada masyarakat, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dengan kampus-kampus untuk mengembangkan penelitian. Keterlibatan mahasiswa dinilai penting agar generasi muda Kuningan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga semakin dekat dengan riset dan perkembangan ilmu pengetahuan.

“Saya harap mahasiswa dan masyarakat mengenal sisi lain teknologi ini, berjalan seiring waktu dan kesempatan, sehingga teknologi ini bisa bermanfaat untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara,” katanya.

Bagi Kuningan, H. Rokhmat Ardiyan melihat pemanfaatan teknologi nuklir memiliki peluang yang relevan dengan karakter daerah. Sebagai wilayah dengan sektor pertanian yang kuat, teknologi dapat dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan, termasuk memperpanjang daya simpan hasil pertanian melalui teknologi pengawetan. Teknologi ini telah digunakan sektor kesehatan, salahsatunya dalam penggunakan alat rontgen dan peralatan medis berbasis radiasi.

Pandangan tersebut memperluas pembahasan nuklir dari sekadar isu energi menjadi teknologi yang dapat bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Secara nasional, BAPETEN sendiri terus menempatkan keselamatan, keamanan, dan perlindungan lingkungan sebagai fondasi pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir. 

Rokhmat juga menilai perkembangan teknologi nuklir perlu diikuti dengan kesiapan Indonesia menghadapi kebutuhan energi masa depan. Ia menyebut tenaga nuklir memiliki potensi dalam mendukung transisi energi, meski pemanfaatannya harus disertai kehati-hatian, terutama terkait keselamatan radiasi dan pengelolaan limbah.

“Teknologi ini harus membantu menumbuhkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan pendapatan negara, tetapi jangan sampai menimbulkan limbah dan masalah radiasi yang merugikan masyarakat,” tegasnya.

Kegiatan di Arunika ini menjadi kunjungan kedua BAPETEN ke Kuningan. Kehadiran unsur pemerintah, DPR RI, akademisi, tokoh masyarakat, dan organisasi mahasiswa memperlihatkan pentingnya membangun pemahaman publik secara lebih utuh mengenai teknologi nuklir. Bukan hanya melihat risikonya, tetapi juga memahami manfaat sekaligus mekanisme pengawasan yang memastikan teknologi tersebut digunakan secara aman. 

Lebih jauh, forum ini membuka ruang agar masyarakat dan generasi muda mulai melihat teknologi nuklir sebagai bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan yang perlu dipahami secara kritis, diawasi secara ketat, dan diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Mahasiswa maupun masyarakat dapat berperan menjadi mitra BAPETEN dalam pengawasan di daerah. (Bubud Sihabudin)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama
mediatiga.com

Formulir Kontak