Penerima PIP Tak Boleh Tersisih dari Panggung Prestasi, Waroeng Rakyat Gelar CSC

Waroeng Rakyat gagas Ciremai Smart Competition (CSC) 2026, kompetisi cerdas cermat tingkat SMP/MTs sederajat untuk memberikan ruang kepada siswa penerima manfaat PIP di Kabupaten Kuningan.

KUNINGAN - Siswa penerima Program Indonesia Pintar (PIP) tak boleh tersisih dari ruang-ruang kompetisi dan panggung prestasi hanya karena latar belakang ekonomi keluarganya.

Pesan tersebut menjadi salah satu alasan Waroeng Rakyat menggagas Ciremai Smart Competition (CSC) 2026, kompetisi cerdas cermat tingkat SMP/MTs sederajat yang untuk pertama kalinya secara khusus memberikan ruang kepada siswa penerima manfaat PIP di Kabupaten Kuningan.

Mengusung tema “Membuktikan Kemampuan, Menyalakan Harapan”, CSC digelar Waroeng Rakyat bekerja sama dengan Ikatan Keluarga Alumni IPMK-YK. Kegiatan tersebut diproyeksikan menjadi ruang bagi siswa penerima PIP untuk menunjukkan kemampuan akademik sekaligus membangun kepercayaan diri melalui kompetisi.

Ketua Pelaksana CSC 2026, Rheza Amarulloh, mengatakan gagasan tersebut berangkat dari semangat Waroeng Rakyat yang selama ini membawa isu kemanusiaan dan kepedulian sosial dalam berbagai kegiatannya.

“Untuk program CSC ini kita kembali kepada spirit kita, yaitu spirit humanity. Dalam program ini kita fokus pada siswa-siswi penerima manfaat PIP dan memberikan ruang terbuka seluas-luasnya kepada seluruh siswa SMP, MTs sederajat untuk mengikuti lomba ini,” kata Rheza dalam konferensi pers di MIKO Food and Beverage, Kamis, 1 Oktober 2026.

Menurut dia, status sebagai penerima PIP tidak seharusnya menjadi pembatas bagi seorang siswa untuk tampil dalam kompetisi. Justru, siswa yang memperoleh bantuan pendidikan tersebut perlu mendapatkan kesempatan yang sama untuk memperlihatkan kemampuan dan prestasinya.

“Kita ingin membuktikan penerima PIP ini bisa punya panggung yang sama. Mereka bisa berprestasi, bisa bersaing dan memiliki kemampuan,” ujarnya.

Sekretaris Pelaksana CSC 2026, Angga, mengatakan perhatian terhadap siswa penerima PIP muncul dari temuan adanya pelajar yang belum banyak mendapatkan ruang dalam berbagai kompetisi.

Keterbatasan ekonomi, menurut dia, dalam sejumlah kondisi dapat berpengaruh terhadap kesempatan siswa mengikuti kegiatan pengembangan prestasi. Terlebih ketika persiapan mengikuti lomba membutuhkan fasilitas tambahan seperti bimbingan belajar atau sarana pendukung lainnya.

“Biasanya para penerima PIP memiliki keterbatasan. Ketika ada lomba, mereka jarang terekspos atau jarang menerima ruang untuk mengikuti perlombaan tersebut. Makanya kita hari ini memberikan ruang seluas-luasnya untuk para siswa yang menerima program PIP,” katanya.

CSC kemudian dirancang bukan hanya sebagai perlombaan akademik, tetapi juga sebagai ruang untuk membongkar sekat sosial yang berpotensi muncul di lingkungan pendidikan.

Panitia ingin kemampuan menjadi dasar utama dalam kompetisi. Dengan begitu, siswa tidak dinilai dari kondisi ekonomi keluarganya, melainkan dari pengetahuan dan kemampuan yang ditunjukkan selama perlombaan.

“Sekat dan stigma diskriminasi itu harus dihapuskan. Kalau ada lomba dan penerima PIP memiliki kompetensi serta diketahui mampu mengikuti, mereka harus difasilitasi,” ujar Angga.

Program Indonesia Pintar merupakan program pemerintah yang memberikan bantuan kepada peserta didik dari keluarga miskin atau rentan miskin untuk membantu keberlangsungan pendidikan mereka.

Bantuan tersebut mencakup peserta didik pada jalur pendidikan formal maupun nonformal sesuai ketentuan program.

Bagi Waroeng Rakyat, keberadaan PIP tidak berhenti pada persoalan bantuan biaya pendidikan. Ada persoalan lain yang ingin dilihat, yakni sejauh mana siswa penerima manfaat memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensi dan menunjukkan prestasinya.

CSC menjadi salah satu ruang untuk menguji hal tersebut melalui kompetisi akademik yang terbuka bagi siswa penerima PIP jenjang SMP/MTs sederajat.

Panitia juga menggandeng Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) dalam pelaksanaan CSC. Keterlibatan tersebut diharapkan memberikan nilai tambah sekaligus motivasi bagi peserta untuk mengenal ekosistem kompetisi prestasi pada jenjang yang lebih tinggi.

“Kita juga akan bekerja sama dengan Puspresnas. Ini akan menjadi nilai tambah bagi para siswa,” kata Rheza.

CSC 2026 digelar dalam rangka menyambut Hari Guru Nasional. Rangkaian kegiatan dimulai dari pendaftaran pada 1 hingga 24 Oktober 2026, dilanjutkan verifikasi peserta pada 25 Oktober dan technical meeting pada 26 Oktober.

Tahap awal atau passing grade dijadwalkan berlangsung pada 7 November 2026. Dari tahapan tersebut, kompetisi akan berlanjut hingga semifinal dan grand final yang dijadwalkan berlangsung pada 28 November 2026.

Panitia memilih 28 November untuk tahapan akhir karena 25 November merupakan Hari Guru Nasional yang umumnya diisi berbagai kegiatan di sekolah masing-masing.

“Pada 28 November nanti kita akan melaksanakan semifinal 10 sekolah terbaik dan grand final empat sekolah terbaik,” ujar Angga.

Setiap sekolah dapat mengirimkan tiga peserta. Ketentuan lebih rinci mengenai mekanisme kompetisi akan disampaikan dalam technical meeting.

Materi yang diujikan difokuskan pada materi kelas 7 dan kelas 8. Bidang pelajaran yang diperlombakan meliputi IPA, IPS, Matematika dan Bahasa Indonesia.

Panitia juga memastikan proses kompetisi akan mengedepankan integritas. Juri dan panelis dipilih berdasarkan kompetensi di bidangnya sehingga penilaian diharapkan berlangsung secara objektif.

“Kita pakai konsep meritokrasi, orang yang berkompeten di bidangnya. Kita tidak mungkin mengambil juri atau panelis dari orang yang bukan di bidangnya,” kata Angga.

CSC 2026 tidak menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Kegiatan digagas Waroeng Rakyat bersama Ikatan Keluarga Alumni IPMK-YK sebagai bagian dari kegiatan sosial dan pendidikan.

Informasi mengenai pelaksanaan CSC juga akan diteruskan kepada berbagai instansi dan lembaga yang berkaitan dengan bidang pendidikan. Panitia telah menyiapkan mekanisme pendaftaran serta pamflet informasi untuk sekolah yang berminat mengikuti kegiatan tersebut.

Waroeng Rakyat sendiri merupakan forum diskusi publik dan komunitas kaum muda di Kabupaten Kuningan yang selama ini aktif mengangkat isu sosial, kepemudaan dan kebijakan publik. Komunitas tersebut juga menggagas sejumlah kegiatan apresiasi masyarakat, salah satunya Pangajen Rakyat Pinunjul.

Melalui CSC, Waroeng Rakyat ingin memperluas ruang tersebut ke lingkungan pendidikan. Siswa penerima PIP yang selama ini identik dengan bantuan pendidikan diharapkan dapat tampil dengan identitas lain, yakni sebagai pelajar yang memiliki kemampuan, prestasi dan kesempatan untuk bersaing.

Semangat tersebut dirangkum dalam tagline organisasi, “Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh”, yang menjadi landasan kegiatan Waroeng Rakyat dalam membangun ruang partisipasi dan pengembangan masyarakat.

CSC 2026 pun diarahkan menjadi panggung pembuktian bagi siswa penerima PIP bahwa keterbatasan ekonomi tidak semestinya menjadi batas bagi kesempatan untuk berprestasi. (Bubud Sihabudin)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak