KUNINGAN - Upaya pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan ekonomi terus berkembang di Kabupaten Kuningan. Melalui program Klasterisasi Budidaya Maggot, sebanyak 30 nasabah PNM Mekaar Unit Jalaksana mendapat pelatihan pengolahan limbah organik menjadi komoditas bernilai ekonomi.
Program yang dilaksanakan di wilayah Region Cirebon-2 ini menyasar perempuan prasejahtera, khususnya ibu rumah tangga, dengan tujuan memperkuat kemandirian ekonomi keluarga sekaligus mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan di tingkat rumah tangga.
Pemimpin Cabang PNM Cirebon, Erwin Syafriadi, mengatakan pelatihan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) tersebut dirancang dengan pendekatan klaster, sehingga peserta tidak hanya dibekali kemampuan teknis, tetapi juga diarahkan pada kerja kolektif dan orientasi pasar.
"Limbah organik rumah tangga dimanfaatkan sebagai media budidaya, sementara hasilnya berupa maggot dan kasgot memiliki nilai jual sebagai pakan ternak berprotein tinggi serta pupuk organik," jelasnya.
Selama tiga bulan, lanjutnya, program ini mendapat pendampingan intensif dari Universitas Muhammadiyah Cirebon. Pendampingan meliputi teknik budidaya, pengelolaan usaha sederhana, hingga strategi pemasaran produk agar mampu bersaing dan berkelanjutan.
Para peserta sangat senang, program tersebut mengubah cara pandangnya terhadap sampah rumah tangga. Limbah yang sebelumnya dibuang kini dapat diolah menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga.
Program Klaster Maggot merupakan bagian dari komitmen PNM dalam menghadirkan pemberdayaan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Menurutnya, penguatan ekonomi perempuan menjadi kunci dalam membangun ketahanan keluarga.
“Melalui klaster ini, kami ingin menciptakan usaha yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Erwin menambahkan, kolaborasi antara lembaga pembiayaan, perguruan tinggi, dan masyarakat diharapkan mampu membentuk ekosistem ekonomi sirkular yang memberi manfaat ekonomi, sosial, sekaligus lingkungan di Kabupaten Kuningan.
Sejalan dengan itu, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat, timbulan sampah nasional Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 24,94 juta ton per tahun dari 246 kabupaten/kota.
Mayoritas di antaranya merupakan sampah organik yang belum dikelola secara optimal.
Kondisi tersebut menunjukkan pengelolaan limbah organik bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga peluang ekonomi.
"Melalui budidaya maggot, sampah rumah tangga yang selama ini menjadi beban justru dapat diubah menjadi sumber pendapatan baru, sekaligus menjadi contoh praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berdaya guna dan berkelanjutan. Semoga bermanfaat," pungkas Erwin Syafriadi. (*)

